Jumat, 15 Juni 2012

KHOTBAH NIKAH PADA ACARA PERNIKAHAN


KHOTBAH NIKAH PADA ACARA PERNIKAHAN
Assalamualaikum w.w.
Ananda ......................................................................., calon suami-isteri yang berbahagia.
Selama ini kalian menjadi amanah di tangan orang tua kalian masing-masing.
Kalian dipeliharanya, dibesarkannya, dididiknya, disekolahkannya dan seterusnya sekarang ini kalian diantarkannya memasuki pintu gerbang pernikahan.
Kasih sayang orang tua kalian kepada kalian ternyata melebihi kasih sayang mereka kepada diri mereka sendiri. Kini tibalah giliran mereka menyerahkan amanah itu kepada kalian berdua.
Ananda calon suami istri serta hadirin rahimakumullah.
Mengapa setiap mahluk melakukan perkawinan ?
Para ahli menjelaskan, karena ada sesuatu dalam diri setiap mahluk yang tidak kecil peranannya dalam wujud ini. Sesuatu itu adalah naluri yang melahirkan dorongan seksual. Sepasang burung berkicau dan bercumbu sambil merangkai sarangnya. Bunga mekar dengan indahnya merayu burung dan lebah agar mengantarkan benihnya ke bunga yang lain, supaya dibuahi.
Bukan hanya binatang dan tumbuh-tumbuhan  saja, bahkan- kata para ahli- atom yang positip dan negatif, tarik menarik demi memelihara eksistensinya.
Demikianlah naluri mahluk, masing-masing memiliki pasangan dan berupaya untuk bertemu dengan pasangannya.
Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan lebih kuat dorongannya melebihi dorongan naluri pertemuan dua lawan jenis, pria dan wanita, jantan dan betina, positif dan negatif. Itulah ciptaan Allah SWT dan itulah peraturan-Nya.
z`»ysö6ß Ï%©!$# t,n=y{ ylºurøF{$# $yg¯=à2 $£JÏB àMÎ7/Yè? ÞÚöF{$# ô`ÏBur óOÎgÅ¡àÿRr& $£JÏBur Ÿw tbqßJn=ôètƒ
(Q.S. Yasin : 36).
Artinya: Maha suci Allah yang menciptakan semua pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi, dari jenis mereka (manusia) maupun dari (mahluk-mahluk) yang mereka tidak ketahui.
Ananda calon suami istri serta hadirin rahimakumullah.
Mendambakan pasangan itu merupakan fitrah sebelum dewasa; Dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa.
Kesendirian, dan lebih gawat lagi keterasingan, sungguh dapat menghantui manusia, karena manusia itu pada dasarnya adalah mahluk sosial, mahluk yang membawa sifat dasar ketergantungan.
t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
KHALAQAL INSANA MIN ‘ALAQ, begitu bunyi wahyu pertama Al Quranul Karim.
Memang, sewaktu-waktu manusia itu bisa merasa senang dalam kesendiriannya, akan tetapi tidak untuk selamanya.
Manusia menyadari, bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya untuk mendapatkan kekuatan dan membuat dia lebih bisa menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia melakukan pernikahan, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa.
Allah SWT Maha Mengetahui, bahwa hal seperti itu dialami oleh semua manusia, baik pemuda maupun pemudi, duda maupun janda.
Oleh karena itu, Al Quranul Karim  ketika berbicara tentang janda yang belum selesai iddahnya, menyatakan :
tûïÏ%©!$#ur tböq©ùuqtFムöNä3ZÏB tbrâxtƒur %[`ºurør& z`óÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr'Î/ spyèt/ör& 9åkô­r& #ZŽô³tãur ( #sŒÎ*sù z`øón=t/ £`ßgn=y_r& Ÿxsù yy$oYã_ ö/ä3øŠn=tæ $yJŠÏù z`ù=yèsù þÎû £`ÎgÅ¡àÿRr& Å$râ÷êyJø9$$Î/ 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î6yz ÇËÌÍÈ
234.  Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[147] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
 [147]  Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.
(Q.S. Al Baqarah 234).
Artinya : Tidak ada dosa bagimu  ( hai para wali), membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka secara makruf. 
Maksud ayat tersebut adalah mereka, janda-janda (karena suaminya meninggal dunia itu) boleh berhias, bepergian dan menerima pinangan.
Sedang para lelaki diingatkan oleh lanjutan dari ayat itu (Q.S. Al Baqarah: 235)., yang artinya:
Tidak ada dosa bagimu meminang wanita-wanita itu dengan (kalimat) sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka). Allah mengetahui, bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka
Ananda calon suami istri serta hadirin rahimakumullah.
Dari sinilah Islam mensyariatkan dijalinnya pertemuan pria dan wanita ; diarahkannya pertemuan itu sedemikian rupa hingga terlaksana apa yang disebut pernikahan untuk mengusir hantu keterasingan dan untuk mengalihkan kerisauan menjadi ketentraman.
(Q.S. Ar-Rum: 21)
Artinya: Diantara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) adalah Dia menciptakan dari jenismu pasanga-pasangan agar kamu (masing-masing) memperoleh ketentraman dari  (pasangan)-nya dan dijadikannya diantara kamu mawaddah dan rohmah. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir
(Q.S. An-Nisa’:3).
Artinya: Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka ( kawinilah) seorang saja.
Selanjutnya, dalam hubungan berlaku adil itu, pada ayat lain ditegaskan.
(Q.S. An-Nisa’: 129).
Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil diantara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri dari kecurangan, maka sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maksud ayat tersebut adalah, bahwa suami tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istrinya, walaupun si suami itu sangat ingin berlaku demikian. Jadi, kawinilah seorang saja.
Ananda calon suami istri, yang berbahagia.
Membangun RUMAH TANGGA itu, bukan seperti membangun rumah gedung bertingkat. Menyusun batu bata di atas batu-bata. Tidak juga seperti membuat taman, merangkai bunga di samping bunga. Juga bukan seperti menghimpun binatang dalam satu kandang, satu jantan sepuluh betina. Bukan, bukan seprti itu, melainkan membangun rumah tangga itu dimulai dengan pernikahan antara seorang pria dan...... seorang wanita, seperti yang berlangsung sekarang ini, antara kalian berdua dengan beberapa syarat, antara lain yang selalu harus dipahami dan dihayati, pertama adalah yang berkaitan dengan ijab kabul, serah terima pernikahan. Serah terima itu pada hakikatnya adalah ikrar untuk hidup bersama, seiya sekata mewujudkan sakinah atau ketentrama dengan melaksanakan segala tuntutan dan kewajiban. Saling wasiat mewasiati-lah tentang suami dan istri untuk berbuat baik.
Kalian menerimanya atas dasar amanat Allah, dan menjadi halal hubungan seksual itu atas dasar kalimat Allah. Itulah yang selalu harus diingat dan dihayati, agar menjadikan kehidupan rumah tangga kalian dinaungi oleh makna kalimat itu, kebenaran, keadilan, langgeng tidak berubah, luhur penuh kebajikan dan dikaruniai anak yang soleh-solehah, penyejuk mata, penyenang hati, berbakti kepada kalian ayah bundanya dan kakek neneknya serta santun pada ahli keluarga dan tetangga disekitarnya. Itulah yang pertama, ijab kabul. Yang kedua, yang perlu digaris bawahi dalam konteks pernikahan ini adalah mahar. Suami berkewajiban menyerahkan mahar atau maskawin kepada istri. Islam menganjurkan agar maskawin itu sesuatu yang bersifat materi. Oleh karena itu bagi yang tidak memilikinya, dianjurkan untuk menangguhkan pernikahan sampai dia memiliki kemampuan. Akan tetapi jika karena satu dan lain hal, dia harus juga melakukan pernikahan, maka cincin besi pun jadilah. Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW. Dan jika cincin besi inipun tidak dimilikinya, sedang pernikahan tidak dapat ditangguhkan lagi, maka maskawin itu boleh berupa jasa mengajarkan Al Quran. Begitulah petunjuk Nabi Besar Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh kedua pakar hadis, Bukhari dan Muslim.
Ananda Calon Suami Istri serta hadirin Rahimakumullah
Mahar atau mas kawin itu adalah lambang kesiapan dan kesediaan suami untuk memberi nafkah kepada istri dan putra-putrinya. Selama maskawin itu bersifat lambang, maka tidak harus banyak, bahkan sebaik-baik maskawin adalah seringan-ringannya. Begitu sabda nabi Muhammad SAW, walaupun Al Quran tidak melarang untuk memberi sebanyak mungkin mas kawin. Mengapa demikian ? Karena pernikahan itu bukanlah akad jual beli. Mas kawin itu bukan harga dari seorang perempuan.
Ananda calon suami istri serta hadirin rahimakumullah
Tali-temali pengikat pernikahan itu pada pokoknya ada empat:
Yang pertama: CINTA.
Cinta itu adalah kecenderungan hati kepada sesuatu. Kecenderungan ini boleh jadi disebabkan lezatnya yang dicintai atau karena manfaat yang diperoleh daripadanya. Cinta sejati antar manusia terjalin bila ada sifat-sifat pada yang dicintai sesuai dengan sifat yang didambakannya. Rasa inilah yang menjalin pertemuan antara kedua pihak dalam saat yang sama dicintai dan mencintai.
Yang kedua: MAWADDAH:
Yaitu sesuatu di atas cinta yang seharusnya mengikat hubungan suami istri. Tahukah ananda berdua, apa yang disebut mawaddah itu ?
Mawaddah, maknanya berkisar pada kelapangan dan kekosongan . Kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Demikian menurut pakar M. Quraish Shihab. Mawaddah itu adalah cinta plus. Bukankah yang mencintai, -disamping akan terus berusaha mendekat dan mendekat- sesekali hatinya kesal juga, sehingga cintanya pudar, bahkan putus. Sedang bagi orang yang didalam hatinya bersemi mawaddah atau cinta plus itu, dia tidak akan memutuskan hubungan, seperti yang biasa terjadi pada orang yang bercinta. Ini disebabkan hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan, sehingga pintunya pun sudah tertutup, tidak bisa dihinggapi keburukan lahir dan batin, yang mungkin datang dari pasangannya. Mawaddah adalah cinta plus yang tampak dampaknya pada perlakuan, serupa dengan tampaknya kepatuhan akibat rasa kagum dan hormat kepada seseorang.
Yang ketiga: RAHMAH.
Rahmah adalah kondisi psikologis, yang muncul di dalam hati, akibat menyaksikan ketidak berdayaan, sehingga mendorong yang bersangkutan untuk melakukan pemberdayaan. Karena itu, dalam kehidupan keluarga masing-masing suami dan istri akan bersunguh-sungguh , bahkan bersusah payah, demi mendatangkan kebaikan bagi pasangannya.
Rahmah itu menghasilkan kesabaran......., murah hati, tidak angkuh, tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri, tidak pemarah dan tidak pendendam. Ia menutupi segala sesuatu dan sabar menanggung segalanya. Sementara mawaddah tidak mengenal batas dan tidak berkesudahan.
Mengapa Al Quranul Karim menggaris bawahi hal ini dalam rangka jalinan perkawinan. Agaknya karena betapapun hebatnya seseorang, pasti dia memiliki kelemahan. Dan betapapun lemahnya seseorang pasti ada juga unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari keadaan demikian, sehingga suami dan istri harus berusaha untuk saling melengkapi.
(Q.S. An Nisa : 1)
Artinya : Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan menciptakan darinya (diri itu) pasangannya
(Q.S. Ar Rum : 21)
Artinya : Allah menjadikan dari diri kamu pasangan ?
Ananda calon suami istri serta hadirin rahimakumullah
Firman-firman tersebut mengandung isyarat, bahwa suami dan istri harus dapat menjadi diri pasangannya dalam arti masing-masing harus merasakan dan memikirkan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh pasangannya dan masing-masing harus mampu memenuhi kebutuhan pasangannya itu.
(Q.S. Al Baqarah : 187)
Artinya : Istri-istri kamu adalah pakaianmu dan kamu adalah pakaian mereka
Ayat tersebut tidak hanya mengisyaratkan, bahwa suami dan istri saling membutuhkan, melainkan juga berarti, suami dan istri masing-masing menurut kodratnya memiliki kekurangan, harus dapat berfungsi menutup kekurangan pasangannya itu.
Ananda calon suami istri serta hadirin rahimakumullah.
Para pakar mengatakan, bahwa kasih sayang disuburkan dengan kesadaran, tak seorang pun yang sempurna. Kekurangan yang dimiliki istri boleh jadi dimiliki juga oleh suami dalam bentuk yang lain. Kesalahan yang dilakukan oleh suami dapat juga dilakukan oleh istri dalam bentuk yang sama atau yang lain. Kesadaran demikianlah yang dapat memelihara dan menyuburkan  kasih sayang. Akan tetapi jika kasih sayang itu pun putus, jangan putuskan pernikahan, karena ada amanah yang harus dipertahankan.
Yang keempat : AMANAH
Istri adalah amanah bagi sang suami dan suamipun  amanah bagi sang istri. Tidak mungkin orang tua kalian dan keluarga kalian masing-masing akan merestui pernikahan ini tanpa adanya rasa percaya dan aman. Suami, demikian juga istri, tidak akan menjalin hubungan kecuali jika masing-masing merasa aman dan percaya kepada pasangannya. Penikahan ini bukan hanya amanat dari mereka, melainkan juga amanat dari Allah swt. Bukankah ia dijalin atas nama Allah dengan menggunakan kalimat-Nya.
Hadirin Rahimakumullah
Ada seorang pria datang kepada saidina Umar ra. dan menyampaikan rencananya menceraikan istrinya.
Umar, Kahalifah Rasulullah saw yang kedua itu berkomentar antara lain:
Dimana engkau letakkan amanah yang telah engkau terima itu.
Lalu beliau membaca firman Allah :
(Q.S. An Nisa: 19)
Artinya: Seandainya kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah/jangan ceraikan). Mungkin kamu tidak mrnyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
Ananda calon suami istri, serta hadirin Rahimakumullah
Amanah itu terpelihara dengan mengingat Allah. Kebesaran, kekuasaan dan kemurahan-Nya. Ia dipelihara dengan melaksanakan tuntunan agama.
Siramilah amanah itu dengan shalat walau pun hanya lima kali sehari.
Ananda calon suami isteri yang berbahagia
Camkan beberapa ketentuan dan nasehat berikut ini:
(Al Maidah:1)
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad perjanjian
(Q.S. At Thalaq:6).
Artinya: Tempatkanlah mereka (istri) itu dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.
(Q.S. Al Baqarah:228).
Artinya: Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara  yang makruf , dan para suami mempunyai satu derajat di atas para istri
Tahukah ananda, apa yang dimaksud dengan derajat itu?
Derajat itu adalah kelapangan dada suami terhadap istri untuk meringankan sebagian kewajiban istri.
Oleh karena itu, Syekh Al Mufassirin, Guru Besar Para Penafsir , Imam At Thabari menulis: Walaupun ayat ini disusun dalam redaksi berita, akan tetapi maksudnya adalah anjuran bagi para suami untuk memperlakukan istrinya dengan sifat yang terpuji, agar mereka memperoeh derajat itu.
Rasulullah saw melukiskan suami yang baik adalah sebagai berikut: Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya. Sedang istri yang baik adalah: Bila dipandang menyenangkan: diminta memperkenankan; dan bila suaminya bepergian, dipeliharanya harta dan kehormatannya.
Ketahuilah,
Seorang ibu pernah menasehati puterinya menjelang pernikahan.
Ujarnya: hai anakku; Jadilah terhadap suamimu bumi tempat dia berpijak, niscaya dia akan menjadi bagimu langit tempat engkau berteduh.
Perhatikan nasehat berikut ini antara lain:
Yang pertama dan kedua. Terimalah pemberiannya, walaupun sedikit, dengan penuh rasa syukur dan perkenankanlah permintaanya dengan penuh rasa hormat.
Yang ketiga dan keempat.
Perhatikanlah arah matanya tertuju dan hidungnya mengendus.
Jangan sampai kedua matanya melihat sesuatu yang buruk dari penampilanmu dan jangan pula hidungnya mengendus, kecuali harum semerbak dari dirimu.
ANANDA CALON SUAMI ISTRI YANG BERBAHAGIA LAKSANAKANLAH SEMUA PERINTAH ALLAH SWT DAN JANGAN LANGGAR LARANGANNYA, ANTARA LAIN ADALAH :
(Q.S. Al Isra’ :  23).
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan akh dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
.
Kembangkanlah layar,
Bismillahi majreha wa mursa ina robbilgla ghafurrurrahim.
Aqulu qauli haza wastaghfirulahl’azima li walakum walisairil muslimina walmuslimat, wal mu’minina wal mu’minat. Fastaghfiruhu, innahu hual ghafururrahim.
Fattaqullaha mastato’tum.
Billahi fi sabilil haq.

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& Nä3s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? ¢OèO !#sŒÎ) OçFRr& ֍t±o0 šcrçŽÅ³tFZs? ÇËÉÈ
20.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
 ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ
 Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Ruum 30:21)
"Nikah itu adalah sunahku, karena itu barang siapa yang membenci sunahku, ia bukan sebahagian golonganku" (Hadits)
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di tengah umat yang lain.” (Hadits)
Yang digarisbawahi di sini adalah kata “membanggakan”.
Bahwa, bagaimana kita sebagai umat Rasulullah SAW, selalu dapat menghadirkan kondisi yang lebih baik, lebih manfaat bagi masyarakat.
Melalui pernikahan, kita membina keluarga baru yang lebih baik, melahirkan anak-anak yang lebih baik, yang tidak terkontaminasi oleh penyakit masyarakat saat ini. Bahkan sebaliknya, malah dapat menjadi bagian dari solusi problematika masyarakat.
Dengan berkeluarga, lahirlah generasi-generasi baru yang lebih baik, yang benar akidahnya, bagus ibadahnya, baik akhlaqnya, sehingga dapat dibanggakan, dibanggakan oleh siapapun juga, dibanggakan oleh keluarganya, dibanggakan oleh masyarakat, bahkan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.
Itulah hakikat pesan Rasulullah SAW di atas.
Kemudian janganlah lupa, bahwa berkeluarga adalah kehidupan yang manusiawi.
Artinya, ketika telah menikah, ketika menjadi suami, atau menjadi istri, tidak serta-merta keduanya berubah menjadi malaikat. Mereka tetaplah manusia biasa, manusia dengan berbagai kekurangan, di samping kelebihan-kelebihannya. Kelebihannya untuk disyukuri, kekurangannya untuk disikapi dengan lapang dada.
Oleh karena itu, sangat dibutuhkan saling mengingatkan di antara pasangan suami istri, saling membantu, saling tolong-menolong untuk memperbaiki kekurangan masing-masing. 
Teladanilah rumah tangga Rasulullah SAW.
Ketika Aisyah melihat anak-anak yang bermain boneka di depan rumahnya, maka timbul keinginannya untuk ikut bermain, Rasulullah tidak melarangnya. Betapa Rasulullah pun kadang berlomba lari dengan Aisyah, ada kalanya Rasulullah yang menang, ada kalanya Aisyah yang menang.
Demikianlah, membina keluarga Islami, keluarga sholeh, keluarga daiyah bukan berarti keluarga yang monoton serius. Di dalamnya tetap ada tawa, canda, walaupun tentu saja qiyamul lail, tilawah Quran dan ibadah-ibadah lain tidak pernah terlewatkan.
Sehingga keluarga daiyah tetap senantiasa memberi manfaat bagi masyarakat, dan menjadi bukti ayat-ayat kauniyah.
Barakallaahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoir. Amin.





ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& Nä3s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? ¢OèO !#sŒÎ) OçFRr& ֍t±o0 šcrçŽÅ³tFZs? ÇËÉÈ
20.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
 ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ
 Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Ruum 30:21)
ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä ß,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ß#»n=ÏG÷z$#ur öNà6ÏGoYÅ¡ø9r& ö/ä3ÏRºuqø9r&ur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy tûüÏJÎ=»yèù=Ïj9 ÇËËÈ
22.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui.
ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä /ä3ãB$uZtB È@ø©9$$Î/ Í$pk¨]9$#ur Nä.ät!$tóÏGö/$#ur `ÏiB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù 4 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqãèyJó¡o ÇËÌÈ
 23.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä ãNà6ƒÌãƒ s-÷Žy9ø9$# $]ùöqyz $YèyJsÛur ãAÍit\ãƒur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ¾Çósãsù ÏmÎ/ šßöF{$# y÷èt/ !$ygÏ?öqtB 4 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqè=É)÷ètƒ ÇËÍÈ
24.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä br& tPqà)s? âä!$yJ¡¡9$# ÞÚöF{$#ur ¾Ín̍øBr'Î/ 4 §NèO #sŒÎ) öNä.$tãyŠ ZouqôãyŠ z`ÏiB ÇÚöF{$# !#sŒÎ) óOçFRr& tbqã_ãøƒrB ÇËÎÈ
25.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
¼ã&s!ur `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( @@à2 ¼ã&©! tbqçFÏZ»s% ÇËÏÈ
26.  Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya Hanya kepada-Nya tunduk
uqèdur Ï%©!$# (#ätyö7tƒ t,ù=yÜø9$# ¢OèO ¼çnßÏèムuqèdur Ücuq÷dr& Ïmøn=tã 4 ã&s!ur ã@sVyJø9$# 4n?ôãF{$# Îû ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 uqèdur âƒÍyèø9$# ÞOÅ3ysø9$# ÇËÐÈ
27.                Dan dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, Kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

II

NAN EMPAT TALI PENGIKAT PERNIKAHAN
Seumpama isteri kawan hidup

Ambil tamsil di bawah ini

Agar yang muda tidak menyusup
Kawin cerai silih-berganti

Kalau diri punya sepuluh teman

Enam orang mengandung iri

Kerja-perbuatan laksana kuman

Awak susah, dia menari
Yang tiga tergantung kondisi
Waktu kaya dia mendekat
Ketika miskin semua pergi
Sifat mereka cari selamat
Hanya satu teman sejati
Susah senang dia setia
Tidak berpikir untung rugi
Curahan hati penyimpan rahasia
Asalamualaikum wr. wb.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar